Rabu, 05 Oktober 2011

ANALISIS CERPEN

Menganalisis Nilai-nilai Kehidupan pada 
Cerpen-Cerpen dalam Satu Buku Kumpulan Cerpen

Kemampuan apa yang harus kamu kuasai?
Setelah mempelajari materi dalam kompetensi dasar ini kamu diharapkan dapat:
1. menganalisis nilai-nilai kehidupan pada cerpen-cerpen dalam satu buku kumpulan
cerpen
2. menentukan relevansi nilai-nilai dalam cerpen dengan kehidupan masa kini
Menganalisis cerpen sudah bebrapa kali kamu lakukan pada
pembelajaran yang lalu. Pada pertemuan kali ini kamu diajak untuk lebih
mendalami bagaimana menganalisis nilai-nilai kehidupan yang terdapat
dalam cerpen-cerpen dalam buku kumpulan cerpen.
1. Membaca dan Menganalisis Unsur Intrinsik dalam cerpen
Bacalah cerpen berikut ini!

                                      Berlayar ke Miangas
                                     Cerpen Gerson Poyk

Di atas pesawat yang terbang dari Bandara Sukarno-Hatta menuju
Manado, tidak ada yang unik. Rasanya biasa-biasa saja. Sebelum transit
sebentar di Makassar, penumpang diberi aqua gelas plastik dan sepotong
lemper lebih besar sedikit dari ibu jari. Akan tetapi yang menarik adalah
tetangga dudukku. Di sebelah kananku jendela dan di sebelah kiriku seorang
wanita muda yang memperkenalkan dirinya sebagai dokter gigi. Ah, gigi lagi,
gigi lagi, aku benci gigiku, gigiku pernah diperkosa habis-habisan oleh
perempuan dokter seperti yang duduk di sebelah kiriku.
Aku tercenung mengenang pengalamanku dengan perempuan dokter
gigi yang pernah mencabut gigiku yang pecah sendiri dan setengahnya
tertancap di gusi atas mulutku. Ia mengatakan bahwa sepenggal gigi yang
tertinggal di gusi atasku harus dikeluarkan dengan operasi, bukan dicabut.
Maka sang dokter gigi itu mengoperasi gigiku. Namun walaupun tinggal
101
Pariwisata
setengahnya, kerasnya luar biasa sehingga ia berkeringat dingin mengomel
sendiri, begini, “Kalau obat anti nyerinya hilang tenaganya, waduh, akan
sakit. Apalagi umur Bapak sudah berkepala empat.”
Walaupun mulutku tak boleh berbicara, aku ikut mengomel, “Walaupun
sudah tua aku masih mencangkul kebun dan naik sepeda sepuluh kilometer
sehari dari kebun ke rumah. Pulang pergi dua puluh kilometer sehari!”
“Wah, Pak Tua kita ini superman. Cuma gigi yang kalah. Wah bagaimana
nih, sukar sekali menemukan kepingan gigi yang kecil dalam gusi Bapak.
Bagaimana nih?” gerutu sang dokter gigi.
Mendengar itu, rasanya aku mau bangun dan menggigitnya. Coba suntik
lagi obat anti nyeri. Sang dokter menyuntik lalu alat pencabutnya mengorekngorek
lubang gusiku.
“Tolong telepon anakku. Bilang aku dalam bahaya,” kataku kepadanya.
Ia menyuruh perawatnya menelepon anakku. Begitu anakku tiba, gigiku telah
tercabut! Aku begitu senang, dengan keberhasilannya sehingga aku berterima
kasih kepadanya. Mestinya aku marah tetapi aku tidak sampai hati
mengomelinya.
Ada lagi pengalaman buruk dengan dokter gigi di sebuah rumah sakit
swasta di Jakarta. Dokter gigi yang cantik itu ketika mengebor gigiku, asyik
berbicara dengan temannya. Ketika ia mengeluarkan bor gigi, benda
berbahaya itu menyerempet bibirku. Hampir saja aku sumbing. Semenjak itu
aku tak pernah lagi berobat kepadanya.
“Bapak tinggal di Manado?” tanya dia, sang dokter gigi di sebelah kiriku.
“Tidak,” kataku. “Saya akan meneruskan perjalanan ke Miangas,”
kataku.
“Bapak orang Miangas?” tanya sang dokter gigi.
“Tidak,” jawabku.
“Tinggal di Jakarta tapi saya berasal dari pulau Ndana.”
“Di mana pulau itu?” tanya dia.
“Pulau paling selatan di peta Indonesia.”
“Kawin dengan orang dari pulau paling utara,” katanya.
“Mengapa sendirian ke Miangas, tidak dengan nyonya?” sambungnya.
“Nyonya saya tinggal di Miangas, sekarang,” kataku.
“Ini namanya pisah pulau,” katanya.
“Ya, karena keadaan. Keadaan isteriku meminta ia harus tinggal di pulau
kecil, pulau yang dikelilingi ombak samudra.”
“Mengapa harus demikian?”
“Dia menderita penyakit jiwa. Lupa pada semua orang, bahkan anak
dan suaminya. Lebih celaka lagi ia suka lari dari rumah, mengembara tak
tentu arah. Pernah naik mobil sampai Cianjur, Karawang. Untung ada nomor
telepon di bajunya sehingga polisi dan satpam serta preman yang
menemukannya menelepon kami lalu kami jemput. Akan tetapi suatu hari,
sehabis saya mandikan dia, dia berpakaian bagus dan tiba-tiba, walaupun
dijaga ketat, dia bisa lari dari rumah tanpa nomor telepon di baju dan hilang
102
Pelajaran Bahasa Indonesia SMP/MTs IX
selama beberapa bulan. Saya menemukannya secara kebetulan ketika saya ke
kebun raya Bogor. Dia duduk di pintu gerbang sambil meminta-minta. Dia
lupa bahwa dia masih punya suami dan anak. Semenjak itu keluarga sepakat
untuk mengirimnya pulang ke Miangas.”
Mengapa tidak masukkan dia ke rumah sakit jiwa?”
Sudah, tetapi anehnya, dia bisa lari dari sana. Di rumah ia sering lari
melompati tembok setinggi tiga meter, di rumah sakit jiwa ia bisa lari menembus
pagar kawat berduri. Aneh, lecetnya segera sembuh sendiri tanpa obat,”
tuturku. “Sudah beberapa kali dia ditabrak kendaraan bermotor dan digotong
ke klinik dan rumah sakit tetapi kami dapat menemukannya kembali karena
ada nomor telepon di bajunya. Sudah beberapa kali pula ia dibuang dari
kendaraan umum.”
“Tragis sekali,” kata sang dokter gigi sambil menggigit bibir bawahnya.
“Mengapa tidak tinggal di Pulau Ndana dirawat oleh keluarga pihak suami?”
tanya sang dokter.
“Nenek moyang saya memang berasal dari Pulau Ndana tetapi kini pulau
itu kosong melompong. Karena takut akan seringnya kapal asing, terutama
kapal turis Australia ke sana maka kini ditempati oleh beberapa orang marinir
secara bergiliran. Tiap enam bulan ganti orang, seperti juga di Miangas,”
kataku.
“Saya juga akan bertugas ke Miangas selama enam bulan.”
“Seperti para marinir?” tanyaku.
“Ya. Saya perwira TNI Angkatan Laut.”
“Wau, mengapa tidak pakai seragam? Lagi menyamar untuk mencari
dan menjebak teroris?” kataku. Dia tertawa. Aku juga tertawa.
“Kembali ke isteri Anda. Apa kata dokter tentang penyakitnya?”
“Dementia,” kataku.
* * *
Kapal bertolak dari Pelabuhan Bitung menuju Miangas melalui
pelabuhan di beberapa pulau kecil di utara Sulawesi. Ketika kapal bersandar
di dermaga Miangas di pagi hari, aku terkejut melihat istriku berdiri di atas
timbunan karung-karung ikan asin dan kopra, menari-nari, melompat-lompat,
bernyanyi dan berpidato. Aku tak dapat menahan air mataku ketika bersandar
di geladak paling atas menunggu pintu kapal dibuka.
Tiba-tiba ada tangan halus menyorongkan tisu kepadaku. Aku
memandang wajahnya, wajah dokter gigi perwira TNI Angkatan Laut itu.
Setelah minum obat yang kubawa dari Jakarta, isteriku tenang kembali.
Ia tinggal di rumah saja dan makan teratur, tidur teratur selama sebulan tetapi
bulan berikutnya ketika obatnya habis dan mesti mengambilnya ke Jakarta,
isteriku kumat lagi. Namun ia tak bisa ke mana-mana lagi. Keluarga merasa
aman, kecuali semua nahkoda kapal yang bersandar karena istriku selalu
masuk ke kapal dengan tas lalu berceloteh bahwa ia ingin naik kendaraan
laut untuk mengurus keuangan. Mereka sedikit repot menggotong istriku
keluar dan menyuruhnya pulang.
103
Pariwisata
* * *
Selama tiga bulan di Miangas, aku memasang kincir angin di beberapa
titik pantai yang anginnya keras untuk memperoleh tenaga listrik. Listrik
yang diperoleh dari kincir-kincir anginku membuat Miangas, pulau kecil yang
berbatasan dengan Samudra Pasifik dan Filipina itu terang benderang.
Kerajinan rakyat berkembang. Tukang-tukang membuat rumah knock
down dari batang kelapa tua, rumah yang indah memenuhi permintaan
beberapa Negara terutama Jepang, Eropa dan Amerika. Pabrik ikan kaleng
beberapa buah. Berton-ton ikan asin diekspor ke Afrika yang selalu kekurangan
gizi itu.
Orang-orang Sangie-Talaud pria dan wanita sangat musikal. Berlatih di
terang listrik di malam hari menghasilkan koor yang mendapat penghargaan
internasional di luar negeri. Hanya akulah yang masih tetap murung dalam
kabut perkawinanku.
Akan tetapi lambat laun Miangas menghilangkan duka nestapa
perkawinan kelabuku. Akan tetapi hal itu untuk sementara saja. Pada suatu
hari istriku menarik sebuah sampan kecil dan berdayung ke tengah laut untuk
mengurus keuangan - katanya kepada seorang anak kecil pemilik sampan
kecil pula. Maka hilanglah dia ditelan laut untuk selamanya.
Tidak lama kemudian, ketika kincir anginku sedang membawa cahaya
dan tenaga untuk kegiatan industri di pulau itu aku dan dokter gigi itu
menikah di pulau yang kecil itu. ***
Suara Karya, Sabtu, 13 Januari 2007

A. Setelah kamu baca kutipan cerpen tersebut analisislah cerpen itu dari
     unsur intrinsik!


                                1. Tema
                                2. Tokoh
                                3. Karakter tokoh
                                4. Latar/seting
                                5. Pesan/amanat

B.Tentukan nilai-nilai kehidupannya dalam Cerpen tersebut

                                1. Nilai Persahabatan
                                2.Nilai sosial
                                3.Nilai  relegius
                                4.Nilai  kekeluargaan.

SELAMAT  MENGERJAKAN

                     

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar